KONSEP Rezeki sebenarnya bukan hanya
harta. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya (Ar
Rizqu – Asy Sya’rawi, Mutawalli). Rezeki merupakan kenikmatan lahir
batin yang Allah Ta’ala berikan di dunia dan akhirat (fiddunya hasanah
wafil akhirati hasanah).
Harta memang berperan penting dalam kehidupan muslim. Namun, harta yang menjadi rezeki menurut sabda Rasulullah S.A.W., hanyalah:
1. Apa yang Anda makan menjadi kotoran
2. Apa yang Anda pakai menjadi sampah
3. Apa yang Anda sedekahkan menjadi abadi
Memahami bahwa harta adalah bagian dari rezeki yang Allah Ta’ala
berikan, sangat penting bagi anak dan keluaga, agar meningkatkan
keimanan dan rasa syukur. Banyak sekali orang yang menyibukan dirinya
dengan apa yang diciptakan untuk mereka. Memang dunia ini dengan segala
kebaikannya diciptakan untuk manusia. Sedangkan manusia diciptakan untuk
mengabdikan diri pada Allah Ta’ala. Mengabdi diri pada Allah Ta’ala
bukan hanya menunaikan shalat, zakat, shaum, haji. Akan tetapi merupakan
suatu metode hidup yang saling melengkapi.
Memakmurkan bumi ini menjalin hubungan dengan segenap mahluk Allah Ta’ala, termasuk sesama manusia. Allah Ta’ala memberikan kehormatan kepada mahluk-Nya dalam mencari, mengelola, dan membelanjakan/ memberi/ menyalurkan rezeki kepada sesamanya.
Mengapa merencanakan dan mengelola HARTA itu penting bagi seorang muslim?
Menurut Safir Senduk dalam bukunya Merencanakan Keuangan Keluarga,
beberapa alasan kenapa memerlukan Perencanaan Keuangan, yaitu; adanya
tujuan keuangan yang ingin dicapai, tingginya biaya hidup dari waktu ke
waktu, keadaan perekonomian Indonesia tidak selamanya baik (ada kalanya
krisis), fisik manusia tidak selamanya akan selalu sehat, serta
banyaknya produk keuangan yang ditawarkan.
Imam
Fakhruddin ar-Razy rahimahullah berkata, “Harta (al-maalu) disebut
harta (maal) karena setiap orang banyak condong dan cenderung kepadanya.
Cenderung dalam baha arabnya adalah mailun, berasal kata: Maala,
Yamiilu, maa’ilun, dan maalun.
Karena itulah secara tabiat harta disukai manusia. Penyebabnya adalah
kesempurnaan, harta merupakan sebab menggapai penyempurnaan kemampuan
hak manusia.
Banyak harta akan mendatangkan kekuatan dan kesempurnaan
kemampuan manusia. Bertambahnya harta mengakibatkan bertambahnya akan
semakin bertambahnya kemampuan seorang manusia.” Menurut Al Qur’an
sendiri, setidaknya ada beberapa hal penting, mengapa perencanaan
keuangan perlu dilakukan, setidaknya ada 4 alasan utama, yaitu:
”Dan
ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan
dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Cobaan
berarti luas, firman Allah Ta’ala dalam surat ke- 34 (Saba’)
”Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa
yang dikehendaki-Nya).”…….”
Begitupun
dalam surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 268, ”…..Syaitan menjanjikan
(menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat
kejahatan (kikir); …..”
Kita mengetahui bahwa rezeki di dunia ini untuk seluruh makhluk,
untuk orang mukmin (beriman) dan orang kafir (tidak beriman), karena
rezeki itu merupakan karunia Rububiyah. Karunia Rububiyah itu adalah apa
yang memberikan manfaat kepada mahluk yang beriman kepada Allah dan
yang tidak beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, kita bisa melihat banyak
juga orang yang semata-mata bekerja tanpa dilandasi dengan iman,
seolah-olah lebih banyak menikmati karunia-Nya daripada yang mukmin.
Padahal boleh jadi keberlimpahannya itu sebagai ujian (cobaan) atas
karunia-Nya di dunia, jika tidak diimani maka keberlimpahan itu tidak
akan didapat lagi di akhirat seperti yang Allah Taa’la gambarkan dalam
surat ke 11 (Hud) ayat 15-16.
2. Harta Sebagai Amanah (menunaikan hak-hak harta setelah didapat), seperti firman Allah dalam surat ke- 6 (Al An’aam) ayat 141,

”…..
Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada
fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
3. Mengoptimalkan Harta. Agar menambah syukur
nikmat, menghindari sifat buruk manusia dalam hal harta (kikir &
boros). Allah SWT menerangkan Al Isra (17:26) “Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang
yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”.
Allah Taa’la menggambarkan dalam Al Qur’an surat ke 25 ayat 67 sebagai
sikap cermat dalam pengelolaan keuangan seorang muslim,
”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di
tengah-tengah antara yang demikian.”
4. Harta Berperan Penting dalam Kehidupan/ Ibadah Seorang Muslim. Banyak
sekali kaitan harta dengan ibadah seorang muslim. Maka tak heran ketika
Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, maka yang
dibangun hanya 2, yaitu: Masjid dan Pasar. Dari sinilah Masyarakat
madani dibangun.
Masjid dijadikan pusat pendidikan (tarbiyah), dijadikan pusat pemerintahan, juga dijadikan pusat ibadah. Sementara pasar dijadikan tempat untuk membangun ekonomi umat. Ekonomi Islam dalam Masyarakat Madani punya posisi tawar yang kuat. Untuk itulah perencaanaan keuangan juga diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi yang sesuai dengan kaidah Islam.
Masjid dijadikan pusat pendidikan (tarbiyah), dijadikan pusat pemerintahan, juga dijadikan pusat ibadah. Sementara pasar dijadikan tempat untuk membangun ekonomi umat. Ekonomi Islam dalam Masyarakat Madani punya posisi tawar yang kuat. Untuk itulah perencaanaan keuangan juga diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi yang sesuai dengan kaidah Islam.
Selain
kewajiban berusaha & menafkahi keluarga seperti diperintahkan Allah
SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233, “Para ibu hendaklah menyusukan
anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”
Juga harta berperan penting dalam kehidupan muslim lainnya selain
zakat, infaq, shadaqah, berqurban, juga berhaji & umroh. Dalam surat
ke-3 (Ali ‘Imran) ayat 97, Allah Ta’ala menegaskan,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar