Sabtu, 13 Desember 2014

Perencana keuangan dalam islam

KONSEP Rezeki sebenarnya bukan hanya harta. Rezeki adalah segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya (Ar Rizqu – Asy Sya’rawi, Mutawalli). Rezeki merupakan kenikmatan lahir batin yang Allah Ta’ala berikan di dunia dan akhirat (fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah).

Harta memang berperan penting dalam kehidupan muslim. Namun, harta yang menjadi rezeki menurut sabda Rasulullah S.A.W., hanyalah:
1. Apa yang Anda makan menjadi kotoran
2. Apa yang Anda pakai menjadi sampah
3. Apa yang Anda sedekahkan menjadi abadi
 

Memahami bahwa harta adalah bagian dari rezeki yang Allah Ta’ala berikan, sangat penting bagi anak dan keluaga, agar meningkatkan keimanan dan rasa syukur. Banyak sekali orang yang menyibukan dirinya dengan apa yang diciptakan untuk mereka. Memang dunia ini dengan segala kebaikannya diciptakan untuk manusia. Sedangkan manusia diciptakan untuk mengabdikan diri pada Allah Ta’ala. Mengabdi diri pada Allah Ta’ala bukan hanya menunaikan shalat, zakat, shaum, haji. Akan tetapi merupakan suatu metode hidup yang saling melengkapi.

Memakmurkan bumi ini menjalin hubungan dengan segenap mahluk Allah Ta’ala, termasuk sesama manusia. Allah Ta’ala memberikan kehormatan kepada mahluk-Nya dalam mencari, mengelola, dan membelanjakan/ memberi/ menyalurkan rezeki kepada sesamanya.

Mengapa merencanakan dan mengelola HARTA itu penting bagi seorang muslim?

Menurut Safir Senduk dalam bukunya Merencanakan Keuangan Keluarga, beberapa alasan kenapa memerlukan Perencanaan Keuangan, yaitu; adanya tujuan keuangan yang ingin dicapai, tingginya biaya hidup dari waktu ke waktu, keadaan perekonomian Indonesia tidak selamanya baik (ada kalanya krisis), fisik manusia tidak selamanya akan selalu sehat, serta banyaknya produk keuangan yang ditawarkan.

Imam Fakhruddin ar-Razy rahimahullah berkata, “Harta (al-maalu) disebut harta (maal) karena setiap orang banyak condong dan cenderung kepadanya. Cenderung dalam baha arabnya adalah mailun, berasal kata: Maala, Yamiilu, maa’ilun, dan maalun. Karena itulah secara tabiat harta disukai manusia. Penyebabnya adalah kesempurnaan, harta merupakan sebab menggapai penyempurnaan kemampuan hak manusia. 

Banyak harta akan mendatangkan kekuatan dan kesempurnaan kemampuan manusia. Bertambahnya harta mengakibatkan bertambahnya akan semakin bertambahnya kemampuan seorang manusia.” Menurut Al Qur’an sendiri, setidaknya ada beberapa hal penting, mengapa perencanaan keuangan perlu dilakukan, setidaknya ada 4 alasan utama, yaitu:

1.Harta Sebagai Cobaan. Firman Allah Ta’ala dalam surat ke-8 (Al Anfal) ayat 28:
01
”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Cobaan berarti luas, firman Allah Ta’ala dalam surat ke- 34 (Saba’) ”Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).”…….”

Begitupun dalam surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 268, ”…..Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); …..”

Kita mengetahui bahwa rezeki di dunia ini untuk seluruh makhluk, untuk orang mukmin (beriman) dan orang kafir (tidak beriman), karena rezeki itu merupakan karunia Rububiyah. Karunia Rububiyah itu adalah apa yang memberikan manfaat kepada mahluk yang beriman kepada Allah dan yang tidak beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, kita bisa melihat banyak juga orang yang semata-mata bekerja tanpa dilandasi dengan iman, seolah-olah lebih banyak menikmati karunia-Nya daripada yang mukmin. 

Padahal boleh jadi keberlimpahannya itu sebagai ujian (cobaan) atas karunia-Nya di dunia, jika tidak diimani maka keberlimpahan itu tidak akan didapat lagi di akhirat seperti yang Allah Taa’la gambarkan dalam surat ke 11 (Hud) ayat 15-16.

2. Harta Sebagai Amanah (menunaikan hak-hak harta setelah didapat), seperti firman Allah dalam surat ke- 6 (Al An’aam) ayat 141,
02
”….. Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
3. Mengoptimalkan Harta. Agar menambah syukur nikmat, menghindari sifat buruk manusia dalam hal harta (kikir & boros). Allah SWT menerangkan Al Isra (17:26) “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”. 

Allah Taa’la menggambarkan dalam Al Qur’an surat ke 25 ayat 67 sebagai sikap cermat dalam pengelolaan keuangan seorang muslim,
03
”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

4. Harta Berperan Penting dalam Kehidupan/ Ibadah Seorang Muslim. Banyak sekali kaitan harta dengan ibadah seorang muslim. Maka tak heran ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Madinah, maka yang dibangun hanya 2, yaitu: Masjid dan Pasar. Dari sinilah Masyarakat madani dibangun. 

Masjid dijadikan pusat pendidikan (tarbiyah), dijadikan pusat pemerintahan, juga dijadikan pusat ibadah. Sementara pasar dijadikan tempat untuk membangun ekonomi umat. Ekonomi Islam dalam Masyarakat Madani punya posisi tawar yang kuat. Untuk itulah perencaanaan keuangan juga diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun ekonomi yang sesuai dengan kaidah Islam.

Selain kewajiban berusaha & menafkahi keluarga seperti diperintahkan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” Juga harta berperan penting dalam kehidupan muslim lainnya selain zakat, infaq, shadaqah, berqurban, juga berhaji & umroh. Dalam surat ke-3 (Ali ‘Imran)  ayat 97, Allah Ta’ala menegaskan,
04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar