Profesi marketing, menjual, sales…dan bahasa sejenis lainnya merupakan profesi yang sebetulnya sangat
mudah diperoleh. Tidak memerlukan pendidikan atau keahlian khusus,
apalagi harus menyogok seseorang. Meski mudah diperoleh, tidak dapat
dipungkiri bahwa untuk menjadi salesman atau marketing yang sukses, Anda
harus melengkapi diri dengan pelatihan, ilmu, trik dan sebagainya di
dalam perjalanan karir.
Tulisan ini membahas berbagai trend “bisnis menjual” saat ini,
termasuk MLM dan aneka toko online yang bisa menjadi ide usaha Anda.
Apakah sales, marketing menjanjikan?
Jawabannya adalah, apakah ada usaha di dunia ini yang bisa dijalankan
tanpa ‘menjual’ sesuatu apapun. Coca Cola berjualan minuman kemasan,
McDonald berjualan ayam dan burger, Toyota berjualan mobil, warung
berjualan makanan, salon menjual jasanya, dokter menjual obat dan
keahliannya, bengkel menjual jasa perbaikan kendaraan, asuransi dan bank
menjual aneka produknya dan seterusnya. Semua usaha bertumpu pada
penjualan, alias sales alias marketing.
Menjadi sales tadinya bukanlah profesi yang didambakan masyarakat.
Kecenderungan yang salah ini bisa dirasakan dalam kurun waktu 10 tahun
yang lalu. Seiring perkembangan waktu, pandangan masyarakat banyak
berubah. Pendapatan para sales ternyata sangat besar. Bahkan bisa lebih
besar dari gaji bulanan pegawai atau karyawan biasa.
“Saya sih tidak terlalu mengharap gaji, mas,” kata Rinanti Sirait
yang berprofesi sebagai sales mobil Korea. Ditemui di pameran kendaraan
di salah satu mall Jakarta Barat ia bercerita bahwa bonus merupakan
impian para sales. “Setiap unit yang terjual memberi poin tersendiri
untuk menghitung bonus bulanan. Apalagi kalau target tercapai, wah…,”
Rinanti tergelak mengindikasikan pendapatan yang memadai.
Pendapatan besar para sales zaman ini memang menggiurkan. Stefan Ardianto,
27, merupakan ‘pengusaha muda’ yang sukses. Usahanya adalah berjualan
asuransi. Ia tidak sengaja ‘kecemplung’ di dunia asuransi justru karena
pengalaman pahit.
“Saat itu saya baru semester 2, dan orang tua sudah tidak mampu
membiayai kuliah saya. Saya terpaksa cuti kuliah tanpa kepastian kapan
bisa kuliah lagi. Iseng-iseng saya menemani teman saya menghadiri
presentasi asuransi. Saya pikir, kalau orang lain bisa sukses, kenapa
saya tidak?” Mulailah perjalanan Stefan menjajakan asuransi. Diakuinya
bahwa memasarkan asuransi kala itu tidak mudah. Tetapi setelah ia
mendapat satu dua klien, keahliannya juga terasah untuk menutup
negosiasi. Apalagi masyarakat juga semakin sadar berasuransi.
“Syukurlah mas, kuliah saya sudah rampung tahun lalu. Bahkan selagi
kuliah saya bisa membantu orang tua membiayai adik-adik. Yang paling
mengesankan adalah bonus perjalanan wisata keluar negeri. Paling tidak
dua kali setahun saya bepergian ke Eropa atau Amerika. Dibayarin full sama perusahaan,” kisah Stefan penuh semangat ala salesman.
Berbincang dengan para salesman memang menggairahkan. Mereka dipenuhi
semangat dan optimisme. Kesan ini juga kami tangkap dari perbincangan
dengan Gita Setiawan, 30, lajang kelahiran Papua yang
menuai sukses dari dunia property. Ia tiba di Jakarta sebagai
pengangguran berusia 22 tahun, hanya bermodalkan ijazah STM. Untuk
menyambung hidup, berbagai profesi dijalani. Mulai dari menjaga warung
kenalannya sampai jadi buruh bangunan. Nasib sebagai buruh bangunan
membuka jalannya ke dunia para sales property. Waktu itu ia dimintai
tolong oleh si pemilik rumah yang sedang mereka renovasi untuk mencari
pembeli rumah tesebut. Tanpa modal atau pengetahuan marketing yang
memadai, Gita tanpa sadar telah memulai profesi baru.
“Entah kenapa saya semangat menceritakan rumah tersebut kepada setiap
orang yang saya temui. Di warung, di jalan, di halte, pokonya siapa aja.
Suatu hari saya melihat mobil yang berkeliling di sekitar kompleks
tersebut perlahan-lahan seperti mencari alamat. Saya beranikan diri
menanyakan kesulitan mereka. Eh, ternyata mereka mencari rumah. Singkat
kata saya memberitahukan bahwa rumah yang kami renovasi tersebut akan
dijual pemiliknya. Sekalian saya atur supaya mereka bertemu. Gak
tahunya, seminggu setelah itu saya diberi uang lima juta sama si pemilik
rumah. Katanya bayaran ‘marketing’… Lha, ternyata marketing pakai modal
mulut bayarannya tinggi juga ha ha ha ha,” ia tergelak mengenang titik
balik hidupnya. Sejak itu Gita rajin berkeliling menawarkan jasanya pada
orang-orang yang ingin menjual rumah.
Belakangan jualannya semakin banyak. Ia pernah ditawari seorang teman
untuk bergabung ke perusahaan marketing property yang juga semakin
menjamur, akan tetapi Gita menolak. Ia lebih memilih menjalankan usaha
sendiri ketimbang menjadi pegawai.
“Saya minta tolong teman dibuatkan website. Soalnya semakin banyak
klien yang saya tangani. Website sangat membantu pemasaran saya. Saat
ini saya dan beberapa teman sedang menjajaki dunia developer,” terangnya dengan mata berbinar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar