Sabtu, 13 Desember 2014

Profesi termurah adalah marketing

Profesi marketing, menjual, sales…dan bahasa sejenis lainnya merupakan profesi yang sebetulnya sangat mudah diperoleh. Tidak memerlukan pendidikan atau keahlian khusus, apalagi harus menyogok seseorang. Meski mudah diperoleh, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk menjadi salesman atau marketing yang sukses, Anda harus melengkapi diri dengan pelatihan, ilmu, trik dan sebagainya di dalam perjalanan karir.
 
Tulisan ini membahas berbagai trend “bisnis menjual” saat ini, termasuk MLM dan aneka toko online yang bisa menjadi ide usaha Anda.

Apakah sales, marketing menjanjikan?

Jawabannya adalah, apakah ada usaha di dunia ini yang bisa dijalankan tanpa ‘menjual’ sesuatu apapun. Coca Cola berjualan minuman kemasan, McDonald berjualan ayam dan burger, Toyota berjualan mobil, warung berjualan makanan, salon menjual jasanya, dokter menjual obat dan keahliannya, bengkel menjual jasa perbaikan kendaraan, asuransi dan bank menjual aneka produknya dan seterusnya. Semua usaha bertumpu pada penjualan, alias sales alias marketing.
Menjadi sales tadinya bukanlah profesi yang didambakan masyarakat. Kecenderungan yang salah ini bisa dirasakan dalam kurun waktu 10 tahun yang lalu. Seiring perkembangan waktu, pandangan masyarakat banyak berubah. Pendapatan para sales ternyata sangat besar. Bahkan bisa lebih besar dari gaji bulanan pegawai atau karyawan biasa.
marketing3
Dunia marketing itu penuh dengan dinamika yang menantang.
“Saya sih tidak terlalu mengharap gaji, mas,” kata Rinanti Sirait yang berprofesi sebagai sales mobil Korea. Ditemui di pameran kendaraan di salah satu mall Jakarta Barat ia bercerita bahwa bonus merupakan impian para sales. “Setiap unit yang terjual memberi poin tersendiri untuk menghitung bonus bulanan. Apalagi kalau target tercapai, wah…,” Rinanti tergelak mengindikasikan pendapatan yang memadai.
Pendapatan besar para sales zaman ini memang menggiurkan. Stefan Ardianto, 27, merupakan ‘pengusaha muda’ yang sukses. Usahanya adalah berjualan asuransi. Ia tidak sengaja ‘kecemplung’ di dunia asuransi justru karena pengalaman pahit.
“Saat itu saya baru semester 2, dan orang tua sudah tidak mampu membiayai kuliah saya. Saya terpaksa cuti kuliah tanpa kepastian kapan bisa kuliah lagi. Iseng-iseng saya menemani teman saya menghadiri presentasi asuransi. Saya pikir, kalau orang lain bisa sukses, kenapa saya tidak?” Mulailah perjalanan Stefan menjajakan asuransi. Diakuinya bahwa memasarkan asuransi kala itu tidak mudah. Tetapi setelah ia mendapat satu dua klien, keahliannya juga terasah untuk menutup negosiasi. Apalagi masyarakat juga semakin sadar berasuransi.
“Syukurlah mas, kuliah saya sudah rampung tahun lalu. Bahkan selagi kuliah saya bisa membantu orang tua membiayai adik-adik. Yang paling mengesankan adalah bonus perjalanan wisata keluar negeri. Paling tidak dua kali setahun saya bepergian ke Eropa atau Amerika. Dibayarin full sama perusahaan,” kisah Stefan penuh semangat ala salesman.
Berbincang dengan para salesman memang menggairahkan. Mereka dipenuhi semangat dan optimisme. Kesan ini juga kami tangkap dari perbincangan dengan Gita Setiawan, 30, lajang kelahiran Papua yang menuai sukses dari dunia property. Ia tiba di Jakarta sebagai pengangguran berusia 22 tahun, hanya bermodalkan ijazah STM. Untuk menyambung hidup, berbagai profesi dijalani. Mulai dari menjaga warung kenalannya sampai jadi buruh bangunan. Nasib sebagai buruh bangunan membuka jalannya ke dunia para sales property. Waktu itu ia dimintai tolong oleh si pemilik rumah yang sedang mereka renovasi untuk mencari pembeli rumah tesebut. Tanpa modal atau pengetahuan marketing yang memadai, Gita tanpa sadar telah memulai profesi baru.
“Entah kenapa saya semangat menceritakan rumah tersebut kepada setiap orang yang saya temui. Di warung, di jalan, di halte, pokonya siapa aja. Suatu hari saya melihat mobil yang berkeliling di sekitar kompleks tersebut perlahan-lahan seperti mencari alamat. Saya beranikan diri menanyakan kesulitan mereka. Eh, ternyata mereka mencari rumah. Singkat kata saya memberitahukan bahwa rumah yang kami renovasi tersebut akan dijual pemiliknya. Sekalian saya atur supaya mereka bertemu. Gak tahunya, seminggu setelah itu saya diberi uang lima juta sama si pemilik rumah. Katanya bayaran ‘marketing’… Lha, ternyata marketing pakai modal mulut bayarannya tinggi juga ha ha ha ha,” ia tergelak mengenang titik balik hidupnya. Sejak itu Gita rajin berkeliling menawarkan jasanya pada orang-orang yang ingin menjual rumah.
Belakangan jualannya semakin banyak. Ia pernah ditawari seorang teman untuk bergabung ke perusahaan marketing property yang juga semakin menjamur, akan tetapi Gita menolak. Ia lebih memilih menjalankan usaha sendiri ketimbang menjadi pegawai.
“Saya minta tolong teman dibuatkan website. Soalnya semakin banyak klien yang saya tangani. Website sangat membantu pemasaran saya. Saat ini saya dan beberapa teman sedang menjajaki dunia developer,” terangnya dengan mata berbinar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar